Minggu, 09 Mei 2010

Kebhinekaan Bangsa Indonesia

SUMBER : Antropologi, Drs. Enok Maryani, M. S.


A. Keanekaragaman Bangsa Indonesia


Indonesia terdiri dari 17.580 buah pulau dengan luas keseluruhan hampir 2 juta km2, tersebar di sekitar khatulistiwa pada lintang 6° LU sampai 11° LS dan 95° BT sampai 141° BT.


Di Kepulauan Indonesia banyak terdapat gunung api, sehingga membentuk lahan yang subur, udara yang sejuk dan panorama yang indah, sehingga dijuluki zamrud di khatulistiwa. Pulau-pulau di Indonesia itu dihuni oleh sekitar 300 suku bangsa yang mempunyai bahasa, adat istiadat, rumah adat, teknologi, agama dan kepercayaan yang berbeda. Mozaik budaya di hamparan khatulistiwa ini merupakan potensi besar untuk dikembangkan.


Indonesia merupakan bangsa yan penduduknya bersifat majemuk atau beragam (bhinneka). Kebhinekaan ini dapat dilihat dari dua sudut, yaitu sbb :


1. Secara Horisontal


Кhαzαnαh : Salah satu perbedaan secara horisontal adalah perbedaan jenis kelamin. Selama ini yang berkembang dalam masyarakat, kaum wanita dianggap lebih rendah kedudukannya dari pria. Bagaimana menurut Anda?

Menunjukkan adanya perberdaan, tetapi tidak ada tingkatan, yaitu sbb :


A. Perbedaan Fisik atau Ras


Penduduk Indonesia terdiri dari golongan Papua Melanesoid yang berdiam di Pulau Papua, Kai dan Aru, mempnyai ciri fisik rambut keriting, bibir tebal dan kulit hitam. Selanjutnya, golongan Mongoloid berdiam di sebagian besar kepulauan Indonesia, khususnya di Kepulauan Sunda Besar dengan ciri-ciri rambut ikal atau lurus, muka agak bulat, kulit putih sampai sawo matang. Selain itu, terdapat golongan Weddoid dengan jumlah yang relatif sedikit, seperti orang Kubu, Sakai, Mentawai, Enggano dan Tomuna dengan ciri-ciri fisik, perawakan kecil, kulit sawo matang dan rambut berombak.


B. Perbedaan Suku Bangsa


Di Indonesia hidup tidak kurang dari 300 suku bangsa dengan jumlah penduduk tiap sukunya beragam, dari mulai yang puluhan juta sampai ratusan saja. Suku yang banyak jumlah penduduknya adalah Jawa, Sunda, Dayak, Batak, Minang, Melayu, Aceh, Bali, Manado, Makassar. Sedangkan, suku bangsa yang jumlah penduduknya sedikit, seperti Nias, Kubu, Mentawai, Asmat, Dani, Tobati, Molof dan banyak lagi yang lainnya. Masing-masing suku bangsa mempunyai kebudayaannya sendiri.


C. Perbedaan Agama


Pemerintah Indonesia menjamin setiap warganya untuk menganut dan menjalankanibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Animisme dan dinamisme adalah kepercayaan yang paling tua, dan berkembang sejak zaman pra sejarah, sebelum bangsa Indonesia mengenal tulisan. Agama Hindu dan Budha datang ke Indonesia dari India sekitar abad ke-5 SM dengan bukti tertulisnya ditemukan di Kalimantan Timur (Kerajaan Kutai) dan Bogor (Kerajaan Tarumanegara). Agama Islam datang dari Arab Saudi melalui India sekitar Abad ke-7. Agama Islam menjadi agama terbesar dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Orang Eropa datang ke Indonesia pada awal abad 20, membawa agama Nasrani. Agama Nasrani ini banyak dianut oleh suku Batak, (khususnya Toba dan Karo), Manado, dan Pulau Timor.



D. Perbedaan Jenis Kelamin


Perbedaan jenis kelamin adalah sesuatu yang sangat alami, tidak menunjukkan adanya tingkatan. Anggapan superior bagi laki-laki dan inferior bagi perempuan, adalah tidak benar. Masing-masing mempunyai peran dan tanggungjawab yang saling membutuhkan dan melengkapi. Zaman dahulu kaum perempuan tidak diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya dan seringkali tugasnya dibatasi hanya sekitar rumah saja. Pekerjaan rumah yang itu-itu saja, dianggap tidak banyak menuntut kreatifitas, kecerdasan dan wawasan yang luas, sehingga perempuan dianggap lebih bodoh dan tidak terampil. Sekarang ini perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk sekolah, mengembangkan bakat dan kemampuannya. Banyak kaum wanita yang menduduki posisi penting baik dalam perusahaan maupun politik. Bahkan secara kodrati perempuan mempunyai kelebihan, yaitu anatomi tubuhnya memungkinkan untuk mengandung dan melahirkan anak.



2. Secara Vertikal


Perbedaan yang menunjukkan adanya tingkatan. Hal ini dihasilkan oleh adanya kualitas yang berbeda di antara individu. Misalnya, secara kualitas ada orang yang berpendidikan SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Karena adanya perbedaan pendidikan dan ketrampilan maka pendapatannya berbeda pula. Ada yang berpendapatan rendah, sedang dan tinggi. Kualitas tinggi-sedang dan rendah ini sangat relatif, tergantung pada tempat dan waktu. Pendapatan di desa Rp. 50.000,- termasuk tinggi, tetapi di kota mungkin rendah, karena biaya hidup di kota termasuk tinggi, segala sesuatu harus dibeli atau disewa dengan uang. Pendapatan tersebut tahun 1990 termasuk tinggi, tetapi 10 tahun kemudian termasuk rendah. Dari perbedaan pendapatan timbul istilah miskin, sedang dan kaya.


B. Latar Belakang Kemajemukan Bangsa Indonesia


Кhαzαnαh : Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan. Waktu yang diperlukan cukup panjang, hingga beberapa generasi.


Kemajemukan Bangsa Indonesia, dapat disebabkan oleh 3 faktor yaitu sbb :

1. Latar belakang historis,

2. Kondisi geografis,

3. Keterbukaan terhadap kebudayaan luar.


Secara historis, nenek moyang bangsa Indonesia sekarang ini berasal dari Yunan, Cina Selatan. Perpindahan itu terjadi pada zaman es ( quartair ), dimana Kalimantan, Jawa dan Sumatra bersatu dengan Asia, sedangkan Pulau Papua masih bersatu dengan Australia. Perpindahan itu terjadi secara bertahap dalam waktu yang berbeda. Ada yang mengambil jalur barat melalui Selat Malaka, terus ke Sumatra dan Jawa, ada pula yang mengambil jalan Timur, yaitu Formosa, Filipina terus ke Kalimantan, Jawa dan sebagian lagi ke Sulawesi. Sebelum sampai ke Indonesia, mereka beberapa kali berhenti di suatu tempat dalam waktu yang relatif lama, mungkin beberapa generasi. Dalam proses pemberhentian itu mereka beradaptasi dengan lingkungan. Mereka mempersiapkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan-ketrampilan khusus sebelum mengadakan perjalanan lebih lanjut, seperti mereka yang mengambil jalur timur harus mengetahui dahulu pembuatan perahu dan mengenal kebudayaan kelautan. Perbedaan jalur perjalanan, proses adaptasi di beberapa tempat transit ( pemberhentian sementara ) yang berbeda, dan perbedaan pengalaman serta pengetahuan itulah yang menyebabkan munculnya perbedaan suku bangsa di Indonesia dengan budaya yang beragam pula.


Pulau-pulau di Indonesia keadaan geografisnya berbeda. Keadaan geografis ini dapat berupa iklim, seperti curah hujan, suhu dan kelembaban, jenis tanah, morfolog, tata air, keadaan tumbuhan dan hewannya. Ada daerah dataran, pegunungan, rawa-rawa dan sungai-sungai. Mereka yang telah mencapai tempat tertentu langsung terisolasi oleh alam dari kelompok lainnya, sehingga setiap kelompok berkembang dengan budayanya sendiri-sendiri.

Sesuai dengan perjalanan waktu, manusia terus bertambah, pengetahuan semakin berkembang, dan teknologi semakin maju, selain itu bangsa-bangsa lainpun mulai berdatangan terutama dari India, Cina, Arab dan bangsa Eropa. Bangsa tersebut datang dengan membawa kebudayaan yang beragam. Daerah-daerah yang relatif terbuka khususnya yang berdiam di daerah pinggir pantai paling dulu mengalami perubahan. Dengan semakin baiknya prasarana dan sarana transortasi, hubungan antar kelompok makin intensif, kebudayaan antar suku bangsapun makin berbaur. Daerah-daerah yang terletak di perbatasan umunya mempunyai kebudayaan campuran.


Dampak teknologi manusia yang berkembang selama berabad-abad menghasilkan peradaban yang berbeda. Perbedaan ini tampak dari adanya aktivitas berikut ini :


1. Di sebagian besar pedalaman Pulau Jawa dan Bali, selama berabad-abad telah ditanami secara intensif.

Penanaman padi di sawah dengan sistem irigasi telah dikenal lebih dari 1000 tahun. Sistem pertanian umumnya bersifat subsisten, untuk memenuhi kebutuhan sendiri, luas lahan relatif kecil dan mempergunakan tenaga bantu hewan.


2. Di sepanjang pantai Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi berkembang kota-kota pantai, pusat perdagangan, dan pertemuan antar bangsa, sutera, keramik, emas, perak dan rempah-rempah dan barang berharga lain diperdagangkan di sepanjang jalur laut.


3. Di wilayah pedalaman Kalimantan, Sumatra, Papua dan pulau lainnya, lahan yang belum digarap masuh luas, penduduknya masih jarang dan mereka hidup dari berladang. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.


Sekarang ini di belakang kota paintai ( hinterland ) berkembang industri modern. Aktivitas industri telah melahirkan pola budaya yang tersendiri pula. Perbedaan ( diversitas ), keanekaragaman budaya dan keadaan geografis Indonesia sejak awal ternyata mempunyai beberapa kesamaan yang merujuk kearah kesatuan. Persamaan ini di antaranya sbb :


1. Bahasa berada dalam satu keluarga yang sama;


2. Dari sudut budaya, kebanyakan suku-suku di Indonesia menunjukkan pola yang sama yaitu berdasarkan

tradisi dan ikatan keluarga;


3. Bangsa Indonesia mempunyai kesamaan nenek moyang.



Kekayaan yang berlimpah, berupa hasil pertanian dan tambang, telah banyak menarik bangsa asing untuk menguasai Indonesia. Datangnya penjajahan menyadarkan bangsa Indonesia akan makna persatuan dan kesatuan. Untuk mempertahankan diri sendiri, tidak bisa berjuang secara sendiri-sendiri, akan tetapi setiap suku bangsa harus bersatu.


Keanekaragaman suku bangsa bersatu di bawah satu kesatuan Nusantara ( nusa artinya pulau ). Perbedaan ( diversitas ) melebur menjadi satu kesatuan ( integritasi ), kebhinekaan merupakan alat pemersatu ( Ika ) bangsa di bawah naungan Pancasila, dengan lambang Garuda melalui sembyan Bhinneka Tungga Ika. Keanekaragaman suku bangsa menjadi aset nasional yang sangat berharga. Dalam Tap MPR No. 1 tahun 1993, menyatakan bahwa "Salah satu modal dasar pembangunan adalah budaya bangsa yang dinamis yang telah berkembang sepanjang sejarah yang dicirikan kebhinnekaan dan keesaan bangsa". Sedangkan dalam GBHN 1999 dinyatakan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bertumpu kepada ke-Bhinneka-Tunggal-Ikaan, maka keberadaan dan kelangsungan bangsa harus diperkuat".



Kesatuan Bangsa, secara de facto terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah 350 tahun mengalami penjajahan bangsa asing. Penjajahan ini telah memberikan pengalaman yang pahit dan telah menyadarkan berbagai suku bangsa di tanah air untuk bersatu. Kesadaran akan kesatuan dan persatuan ini tercetus jauh sebelum kemerdekaan itu sendiri, yaitu sejak 28 Oktober 1928 melalui Ikrar Sumpah Pemuda, "bertanah air satu yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yait bangsa Indonesia, dan berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia". Ikrar ini mencerminkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai wawasan jauh ke depan, karena tidak ada masyarakat yang dapat mempertahankan diri sebagai satu kesatuan, tanpa mempunyai pandangan yang sama, nilai yang sama, norma yang sama dan bahasa yang sama. Wujud dari satu kesatuan itu digunakanlah Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman bersikap, berprilaku dalam bermasyarakat. Pancasila berasal dan berakar dari nilai-nilai budaya suku bangsa secara keseluruhan, artinya hasil perpaduan puncak-puncak prestasi budaya daerah yang sudah lama ada dan digunakan.

fungsi Pancasila bagi kehidupan bangsa Indonesia adalah sbb :



1. Sebagai Acuan Nilai dan Norma



Manusia selalu mencari sesuatu yang bernilai. Nilai ini menjadi dorongan dan landasan dalam berprilaku. Nilai-nilai ideal yang menjadi keyakinan dianggap paling berharga, paling indah, paling baik dan paling benar selalu dicari, sedangkan nilai sebaliknya seperti tidak berharga, tidak baik, tidak benar, tidak indah selalu dihindarkan karena akan membahayakan baik selaku individu, anggota masyarakat maupun sebagai hamba Tuhan.


Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila penuh dengan nilai keagamaan, kebenaran, kebaikan, kemanusiaan dan keindahan hidup yang bersifat universal, dapat diakui dan diterima oleh setiap suku bangsa yang ada diseluruh wilayah Indonesia. Hal ini berarti Pancasila adalah alat untuk mengintergrasikan sistem nilai yang ada. Dalam Pancasila terkandung sifat hakiki manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan, sebagai individu, sebagai anggota mansyarakat dan negara. Di dalamnya terkandung keserasian hidup antara dunia dan akhirat, antara jasmaniah dan rohaniah, antara material dan spiritual.



Moral adalah aturan-aturan dan petunjuk-petunjuk dalam berprilaku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dalam moral terkandung ajaran tentang perbuatan baik dan buruk, benar dan salah. Moral sering juga disebut sebagai etika yang memberikan batas-batas yang jelas kepada individu supaya berprilaku sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga diakui sebagai anggota masyarakat.


Butir-butir yang terkandung dalam Pancasila, penuh dengan muatan moral yang dapat meningkatkan harkat martabat Manusia di sisi Tuhan dan antar umat manusia. Pancasila menghasilkan manusia Indonesia yang mempunyai keseimbangan lahir dan batin, hak dan kewajiban, menghormati sesama manusia, mempertebal solidaritas bangsa serta tidak membedakan manusia berdasarkan status dan kedudukan.



2. Pancasila Sebagai Pedoman Bersikap dan Berprilaku



Mengingat individu adalah anggota masyarakat dan negara, maka keutuhan, ketertiban, keamanan masyarakat dan negara diawali dari sikap dan perilaku individu itu sendiri. Kalau nilai dan norma dipahami, dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap individu maka tujuan hidup bemasyarakat dan bernegara dapat dengan mudah dicapai. Kualitas masyarakat dan negara ditentukan pula oleh kualitas individu. Semakin baik kualitas individu, semakin baik kualitas negara. Setiap individu mempunyai kelebihan dan keterbatasan, serta mempunyai harapan-harapan yang berbeda pula. Namun pada intinya sama, yaitu ingin mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Pancasila memberikan arahan dan pedoman dari kebahagiaan manusia yang ideal, yaitu kesejahteraan lahir dan batin, keselamatan dunia dan akhirat.



Pancasila bersifat manusawi karena memungkinkan untuk dilaksanakan oleh setiap manusia, dengan kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Sikap dan pribadi Pancasila adalah individu yang sesuai dengan mentalitas pembangunan, seperti bertakwa kepada Tuhan, tidak boros, berdisiplin, bersemangat dalam bekerja, penuh dengan tanggungjawab, kreatif, senantiasa mengembangkan diri dengan meningkatkan pengetahuan, pendidikan dan ketrampilan, menghormati orang lain berdasarkan prestasi, tenggang rasa, penuh dengan perencanaan yang matang, tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, masyarakat dan bangsa. Insan Pancasila, selalu sadar bahwa sikap dan perilakunya di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan demikian, sikap dan perilaku yang dituntut Pancasila adalah pribadi yang memiliki keseimbangan, keselarasan dan keserasian hubungan antara individu dengan Tuhan, individu dengan individu dan antara individu dengan lingkungan alam.



Kemajemukan suku bangsa merupakan potensi bagi pembangunan, sekaligus rentan untuk terjadinya konflik. Khususnya di saat pemerintah pada keadaan sbb :



1. Dalam membangun bersikap tidak adil, hanya mementingkan sekelompok kecil masyarakat.



2. Pembangunan hanya terkonsentrasi di beberapa daerah saja, sehingga timbul kesenjangan antara daerah pusat dengan daerah, antardaerah, antarpelaku ekonomi, dan antargolongan.


3. Sistem kekuasaan yang berpusat dengan campur tangan pemerintah yang terlampau besar di daerah.


4. Sistem demokrasi yang semu, yang tercermin dari adanya sistem monopoli dan pemusatan kekuatan ekonomi di tangan sekelompok kecil.


5. Sistem kekuasaan yang bercorak absolut, wewenang dan kekuasaan penguasa (presiden) terlalu berlebihan

melahirkan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme.


Semua itu mendorong munculnya konflik sosial dan menguatnya gejala disintegrasi dibeberapa daerah seperti Aceh, Maluku, dan Papua (Irian Jaya). Secara keseluruhan melahirkan krisis multidimensional pada hampir seluruh aspek kehidupan. Terjadinya gejolak sosial tersebut, jelas bukan Pancasila-Nya yang salah tetapi manusianyalah yang tidak memahami dan melaksanakan kaidah yang terkandung di dalamnya dengan baik dan konsekuen. Makna pembangunan yang sebenarnya disalahartikan.


Rangkuman


Indonesia mempunyai ribuan pulau yang tersebar di daerah khatulistiwa. Jalur pegunungan yang membujur di setiap pulau, membentuk lahan yang subur, udara yang sejuk dan nyaman serta panorama yang indah. Oleh karena itu, kepulauan Indonesia dijuluki dengan untaian zamrud di khatulistiwa. Tiap pulau dihuni oleh berbagai suku dengan budaya yang berbeda. Mozaik budaya tersebut merupakan potensi yang siap untuk dikembangkan.


Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Kebhinekaan itu dapat dilihat dari 2 sudut :


1. Secara horisontal menunjukkan adanya perbedaan, tetapi tidak adanya tingkatan seperti perbedaan

berdasarkan fisik atau ras, perbedaan suku bangsa, agama dan jenis kelamin;


2. Secara vertikal, yaitu perbedaan yang menunjukkan adanya tingkatan seperti tingkatan pendidikan dan

pendapatan.


Kemajemukan Bangsa Indonesia disebabkan oleh 3 faktir, yaitu :


1. Latar belakang historis;

2. Kondisi geografis; dan

3. Keterbukaan terhadap budaya luar dan asing.


Perbedaan tampak dari adanya berbagai jenis budaya, adaptasi terhadap lingkungan, dan perkembangan teknologi. Walaupun berbeda Indonesia mempunyai persamaan, yaitu umumnya berasal dari satu nenek moyang, bahasa yang dipergunakan berasal dari satu rumpun, dan dari sudut budaya menunjukkan adanya persamaan, yaitu berdasarkan tradisi dan ikatan keluarga.


Kekayaan yang melimpah telah banyak menarik bangsa asing untuk menjajah Indonesia. Karena itu, muncul adanya kesadaran akan persatuan dan kesatuan. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia berikrar menjadi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Keanekaragaman suku bangsa bersatu di bawah kesatuan Republik Indonesia dengan lambang Garuda Pancasila melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya persatuan dalam perbedaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar